Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ARTIKEL HARI SANTRI:PERAN SANTRI DALAM MEWUJUDKAN INDONESIA EMAS 2045

 

BAKTI SANTRI UNTUK NEGERI DI ERA MILENIAL

DALAM MEWUJUDKAN INDONESIA EMAS 2045

Oleh Kusmiarseh & Camaliyatul Qur’ani

Abstrak  Generasi muda terutama generasi Islam dari kalangan santri memiliki peran besar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Santri sebagai generasi muda Bangsa haruslah menjadi generasi berkualitas untuk mewujudkan Indoensia Emas. Santri berkualitas setidaknya selalu memiliki spirit tinggi dalam kegiatan keilmuan dengan terbuka dalam segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berakhlakul karimah, berjiwa nasionalis, toleran dalam segala bentuk perbedaan, ridla terhadap ketentuan Allah SWT dan selalu inovatif dan kreatif dalam menciptakan karya-karya yang bermanfaat bagi umat. Dengan generasi muda berkualitas, akan terwujud Indonesia Emas.     Kata Kunci: Pesantren, Santri, dan Indonesia Emas     Pendahuluan  Membincang soal peran santri untuk negeri tentu tidak dapat dilepaskan dari kajian historis sejak Indonesia belum merdeka. Berbagai fakta sejarah telah membuktikan bahwa kedudukan santri memiliki peran penting dalam kemerdekaan Indonesia. Satu diantaranya yang paling populer adalah “Resolusi Jihad” yang telah dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari, yang telah mampu dan berhasil mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia terutama di kalangan santri dalam melawan kolonialisme guna mencapai gerbang kemerdekaan. Atas jasa-jasanya, Presiden Soekarno melalui keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.[1]  Bermula dari fatwa Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari pada 22 oktober 1945 atas pertanyaan Bung Karno mengenai hukum mempertahankan kemerdekaan dengan melawan penjajah, akhirnya Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Kepres Nomor 22 Tahun 2015 sebagai bentuk apresiasi terhadap santri.[2]  Disamping KH. Hasyim Asy’ari, terdapat pula daftar nama perwira pembela Tanah Air yang berasal dari kalangan santri, diantaraya K.H Ahmad Dahlan, KH. Zainal Arifin, KH Wahid Hasyim, KH Zainal Mustofa, dan masih banyak lainnya.  Dengan mengkaji fakta sejarah tentang peran santri untuk kemerdekaan Indonesia, haruslah menjadi sebuah komitmen dan tanggung jawab bersama bagi warga Indonesia khususnya para santri untuk selalu menanamkan jiwa nasionalis dan cinta Tanah Air guna mempertahankan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para ulama terdahulu dengan mengisi kemerdekaan melalui berbagai aktivitas positif yang inovatif guna mencapai Indonesia Emas 2045.  Rasa nasionalis yang tinggi pada negeri wajib hukumnya sebagai bentuk pengabdian kita sebagai warga negara Indonesia. Dengan demikian, bhakti santri untuk negeri akan menjadi fondasi dasar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.  Semangat nasionalisme dan cinta Tanah Air pada zaman sekarang ini haruslah diwujudkan dalam berbagai tindakan yang memberikan kemanfaatan bagi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Kemanfaatan yang ditebarkan berdasar pada kemaslahatan seluruh umat tanpa memandang perbedaan sehingga tidak memunculkan kesenjangan. Ini mengingat, bahwa Indonesia sebagai negara plural terdiri dari berbagai macam perbedaan, baik agama, suku, ras, etnis, budaya dan adat istiadat. Keragaman inilah yang justru menjadi warna yang khas bagi Indonesia hingga dikenal di seluruh penjuru dunia.  Rasa nasionalisme dan cinta tanah air yang diwujudkan dalam berbagai tindakan bermanfaat bagi kemaslahatan tanpa adanya perbedaan, sesungguhnya telah diajarkan dalam nilai-nilai keislaman. Islam memang agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan, yang mengajarkan kedamaian, kasih sayang, persamaan, kesetaraan dan keadilan. Implikasinya, setiap umat Islam berkewajiban memberikan perlindungan terhadap kelima hak dasar tersebut tanpa membedakan golongan, ras, etnis, budaya, bahkan jenis kelamin.[3]  Tugas seorang santri sebagai wujud pengabdian pada negeri adalah senantiasa menanamkan nilai nasionalisme dan cinta Tanah Air sejak dini. Karena tidak dapat dipungkiri, Islam sebagai sebuah agama yang kaffah telah mengajarkan bahwa cinta tanah air sebagian dari iman. Dalam mewujudkannya, sebagai seorang santri haruslah memiliki sikap toleran yang tinggi terhadap sesama di tengah masyarakat yang plural. Oleh karenanya, sebagai pemuda terlebih seorang santri mari kobarkan dalam diri kita semangat memperjuangkan negara Indonesia, karena santri Indonesia mata air peradaban dunia.  Negara Indonesia pada saat ini, telah merdeka dari masa kolonial atau penjajahan. Tiada lagi kerja rodi, romusa, perbudakan, pengambilan hak secara paksa, penyiksaan bahkan pembantaian. Dalam hal ini, tidak sedikit yang bertanya bagaimana cara mengobarkan semangat juang di era milenial seperti sekarang ini.  Perkembangan arus globalisasi di era milenial seperti sekarang ini semakin kuat dan cepat, sehingga tidak mudah untuk hidup di tengah arus yang serba canggih dan modern seperti sekarang ini. Kecanggihan teknologi saat ini, dapat menjadi boomerang dan bom waktu tersendiri bagi penggunanya jika tidak dimanfaatkan secara positif.  Karena itu, sebagai generasi milenial di era digital seperti sekarang ini, haruslah terbuka terhadap berbagai perkembangan termasuk di dalamnya perkembangan dan kemajuan teknologi. Santri sebagai generasi milenial harus bijak dan selektif dalam memanfaatkannya.  Santri sangatlah berperan besar dalam mewujudkan Indonesia gemilang atau Golden Age, seperti halnya pada masa dahulu yang pernah ditorehkan oleh umat Islam pada masa klasik. Bagaimana para ilmuwan muslim kala itu, telah berhasil menjadikan dunia Islam sebagai peradaban dunia khususnya dalam bidang inteletualitas dan keilmuwan. Berdasar aspek historis inilah, seorang santri Indonesia haruslah mewarnai peradaban dunia dengan keilmuannya, sehingga terwujud Indonesia emas 2045. Di tahun 2045 Indonesia tidak hanya dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya saja, namun yang terpenting adalah kaya sumber daya manusia yang berkualitas.     Peran Pesantren  Berbicara soal santri tentu tidak dapat dipisahkan dari pesantren sebagai pengayomnya. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam, pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia.  Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam pertama kali dirintis oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1399 Masehi untuk menyebarkan agama Islam di Jawa. Selanjutnya, tokoh yang berhasil mendirikan pesantren dan mengembangkannya adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel), yang kemudian melahirkan kemunculan pondok pesantren baru yang didirikan oleh para santrinya seperti pesantren Giri oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Patah dan pesantren Tuban oleh Sunan Bonang.[4]  Kata pesantren atau santri berasal dari Bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Sumber lain menyebutkan bahwa kata santri berasal dari Bahasa India Shastri dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci”, “buku-buku agama”, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan”. [5] Secara leksikal, kata santri diartikan sebagai siswa di pondok pesantren.[6]  Di luar Pulau Jawa lembaga pendidikan ini disebut dengan nama lain, seperti Surau di Sumatera Barat, Dayah di Aceh, Langgar di Kalimantan dan Pondok di beberapa daerah lain.[7]  Dalam perjalanan sejarah Indonesia, pesantren telah memainkan peranannya yang besar dalam upaya memperkuat akidah, membina akhlak mulia dan mengembangkan swadaya masyarakat Indonesia serta turut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan informal, non formal dan pendidikan formal yang diselenggarakannya.  Secara informal, pesantren di Indonesia telah berfungsi sebagai keluarga yang membentuk watak dan kepribadian santri. Pesantren juga telah melaksanakan pendidikan keterampilan melalui kursus-kursus untuk membekali dan membantu kemandirian para santri dalam kehidupan masa depannya. Secara keseluruhan, pesantren selalu dijadikan contoh dan panutan oleh masyarakat dalam segala hal, sehingga eksistensi pesantren di Indonesia telah berperan menjadi potensi yang sangat besar dalam pengembangan masyarakat.[8]  Selain sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran keagamaan. Sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, menerima tamu yang datang dari masyarakat umum dengan motif yang berbeda-beda. Sebagai lembaga penyiaran agama Islam, masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yakni tempat belajar agama dan ibadah bagi para jamaah.[9]  Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan memiliki kekhasan tersendiri dengan lembaga pendidikan lainnya, yaitu para santri atau murid tinggal bersama kiai atau guru mereka dalam satu kompleks tertentu. Hal ini dapat memudahkan proses pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dalam upaya membentuk karakter santri melalui pembiasaan dalam kegiatan rutin di pesantren.  Secara lebih spesifik, pengaruh positif yang menjadi kontribusi pesantren dalam hal pembentukan kepribadian santri antara lain sebagai berikut:  1)   Santri taat dan patuh kepada kiai (gurunya).  2)   Santri dibiasakan untuk menjadi orang yang jujur baik dalam perkataan dan perbuatan.  3)   Para santri terbiasa hidup mandiri dan sederhana.  4)   Para santri terlatih hidup disiplin dalam segala hal.  5)   Adanya semangat gotong royong dalam suasana penuh persaudaraan sehingga memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama.  6)   Para santri terlatih untuk bersikap sabar, karena dalam pesantren para santri terdiri dari berbagai macam latar belakang dan karakter.  Keberhasilan pesantren memainkan perannya sebagai lembaga pendidikan yang mampu membentuk pribadi yang luhur (berakhlakul karimah) inilah yang membawa pesantren tetap diakui eksistensinya hingga sekarang. Sejak dulu hingga sekarang, eksistensi pesantren tidak pernah surut terbawa gelombang arus pergeseran zaman yang semakin terpupuskan oleh kebiasaan-kebiasan yang serba memanjakan bagi penikmatnya. Sudah menjadi keharusan bagi generasi muda khususnya para santri untuk menghindari kebiasan-kebiasaan yang dapat mengarah pada pembentukan generasi instan di era milenial seperti sekarang ini, terlebih pada hal yang mengarah pada gaya hidup kebarat-baratan yang jauh dari nilai keislaman dan budaya ketimuran.  Bhakti Santri Menuju Indonesia Emas 2045  Santri yang beriringan dengan pesantren sebagai pengayomnya dalam membantu dakwah moderasi Islam membentengi akidah umat dan mewariskan karakter luhur di Indonesia sudah cukup menjadi modal dalam memainkan peranannya untuk mengabdi pada negeri dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.  Sejatinya gaya hidup santri yang humanis, mandiri, sederhana, inklusif dan toleran yang telah dibiasakan saat belajar di pesantren rasanya dapat diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa.[10] Di samping itu, rutinitas pembelajaran yang dilakukan di pesantren baik yang bersifat informal, non-formal dan formal telah membekali para santri untuk menjadi generasi islami yang intelektual, cakap dan bermoral khususnya di era milineal seperti saat ini. Dan para santri akan berkolaborasi dengan mereka yang menempuh studi di belahan dunia untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia Emas 2045. Sebuah pemandangan indah yang akan mengisi perjalanan bangsa ini di masa mendatang.  Dalam muwjudkan Indonesia Emas 2045, peran santri sangatlah penting. Dengan berdasar pada hasil pembelajaran di pesantren diakui atau tidak, pesantren telah berhasil mencetak generasi bangsa yang unggul dalam ilmu dan amal dengan penuh kemandirian, inovasi dan kreatifitas. Pengabdian santri untuk negeri dalam mewujudkan Indonesia emas 2045, dapat diwujudkan melalui aktualisasi santri dengan mendasar pada kata “santri” itu sendiri.  Kata santri bukan hanya sekedar kata yang telah ditejermahkan secara sederhana baik secara hafiah maupun leksikal. Lebih jauh dari itu, kata santri sejatinya memiliki makna yang luar biasa untuk kemajuan bangsa dan negara.  Pada bagian ini, penulis akan mencoba mengkaji dan menganalisa makna kata “santri” ditinjau dari segi akronimnya. Setiap huruf yang terangkai dalam kata “santri” akan memberikan makna mendalam dalam menggambarkan karakter santri untuk mengabdi pada negeri dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kata “santri” terdiri dari lima huruf yaitu: S-A-N-T-R-I dan kelima huruf tersebut memiliki makna tresendiri sebagai perwujudan kekhasan seorang santri.  1)        S (Spirit belajar tinggi)  Spirit belajar yang tinggi merupakan implementasi dari perintah Allah SWT melalui firman-Nya, dan juga Rasulullah SAW melalui hadistnya. Karena itu, mencari ilmu ini sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap umat Islam tanpa mengenal batas usia.  Al-Qur’an menekankan agar umat Islam mencari ilmu pengetahuan dengan meneliti alam semesta ini, dan bagi orang yang menuntut ilmu ditinggikan derajatnya di sisi Allah SWT. [11] Sebagaimana firman Allah SWT dalam al Qur’an Surat Al Mujadalah ayat 11 yang artinya:  “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.[12]  Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya agar ada pula menyempatkan diri menuntut ilmu ke negeri Cina. Hadist tersebut setidaknya merekomendasikan kepada umat Islam untuk lebih memiliki keterbukaan diri dengan membuka pola pandang dan wacana dalam menimba ilmu pengetahuan di belahan dunia manapun.  Dalam kesempatan berbeda, almarhum Nurcholis Madjid telah mengingatkan bahwa dalam waktu yang tidak lama, akan terjadi ledakan yang luar biasa dari kalangan Nahdlatul Ulama. Hal tersebut terjadi karena dalam pandangan beliau banyak santri yang belajar di luar negeri. Mereka dari sejumlah pesantren dengan kemampuan Bahasa Arab mumpuni, kemudian berbaur dengan suasana keilmuan di berbagai belahan dunia.[13]  Secara historis tercatat beberapa ulama Indonesia pada masa lalu pernah berkiprah hingga namanya dikenal dunia. Pada umumnya mereka menimba ilmu di Mekkah dan Madinah. Diantaranya adalah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani, Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani dan lainnya. Santri yang juga menjadi barometer kesuksesannya, antara lain KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, KH Ahmad Dahlan, KH Abdurrahman Wahid dan masih banyak lagi lainya.[14] Dengan mencermati fakta sejarah inilah, seyogyanya dapat menjadi spirit tersendiri untuk selalu menimba ilmu sepanjang hayat tanpa terbatas oleh ruang dan waktu, terutama di kalangan generasi muda khususnya para santri Indonesia.  Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara kontinu telah memberikan ruang yang total bagi para santrinya untuk selalu istiqomah dalam belajar. Sebagai generasi muda Islam yang hidup di era milineal yang serba digital inilah, kesempatan terbuka bagi para santri pada khususnya untuk berkiprah dalam kegiatan keilmuan.  Sebagai seorang santri yang terbiasa terlatih untuk melakukan kegiatan keilmuan secara kontinu dalam bentuk rutinitas di pesantren, harus memiliki nilai yang lebih dalam mengembangkan kegiatan keilmuan.  Santri harus menjadi pribadi yang lebih terbuka dalam segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin terus berkembang pesat. Oleh karenanya, spirit untuk selalu belajar atau menimbah ilmu haruslah menjadi sebuah kebutuhan bagi para santri. Santri dengan spirit belajar yang tinggi inilah yang akan berhasil membawa Indonesia menjadi sebuah negara yang memiliki peradaban tinggi di kancah internasional. Santri Indonesia haruslah menjadi mata air peradaban dunia.  2)        A (Akhlakul Karimah)  Peran pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang sukses, tidak hanya mendidik santri dalam bidang keilmuan saja, namun yang paling penting adalah pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak yang diselenggarakan di pesantren merupakan pendidikan yang nyata bagi para santri melalui penanaman nilai-nilai islami yang diaplikasikan dalam tindakan sehari-hari, atau yang lebih dikenal dengan istilah akhlakul karimah. Dan inilah yang menjadi kekhasan tersendiri bagi dunia pesantren dalam mencetak generasi Islam yang unggul dalam bidang ilmu, amal dan akhlak.  Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantern didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapat ridla Allah SWT. Para santri di didik untuk menjadi mukmin sejati, yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, mempunyai intgritas pribadi yang kukuh, mandiri dan mempunya kualitas intelektual.[15]  Pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren inilah berhasil menjadikan pola pikir dan perilaku santri kerap menjadi teladan di masyarakat, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia internasional. Dengan berbekal ilmu dan akhlak, seorang santri akan menjadi pribadi yang berkualitas untuk menuju Indonesia Emas.  3)        N (Nasionalis)  Kata “Nasionalis” secara leksikal memiliki arti pecinta nusa dan bangsa sendiri;orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya.[16]  Sikap nasionalis ini telah dicontohkan oleh para ulama terdahulu seperti halnya KH. Hasyim Asy’ari dengan semangat jihadnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sampai akhirnya memunculkan fatwa tentang resolusi jihad. Fatwa beliau ini sangat efektif dalam menghimpun massa. Fatwa tersebut berisi bahwa “perang kemerdekaan adalah perang suci di jalan Allah (jihad fi sabilillah) dan barang siapa mati dalam perang ini dijamin masuk syurga”.[17]  Sebagaimana sikap nasionalis yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu inilah, yang kemudian menjadi keteladanan bagi para generasi muda khususnya para santri untuk menanamkan jiwa nasionalis dalam berbagai bentuk tindakan positif yang bermanfaat bagi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.  Generasi muda Islam terlebih seorang santri haruslah dapat mengisi kemerdekaan yang telah di raih dengan melakukan berbagai perubahan menuju kemajuan peradaban dalam berbagai aspek baik bidang keilmuan, ekonomi, sosial, politik dan budaya. Sang generasi muda inilah yang menjadi tumpuan bangsa Indonesia di masa mendatang terutama untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Jika generasi muda memiliki jiwa nasionalis yang kuat, maka tidak akan mudah tergoyahkan dengan berbagai macam bentuk serangan yang dapat menjatuhkan keutuhan dan persatuan Bumi pertiwi Indonesia.  4)        T (Toleran)  Toleran berarti bersikap tenggang rasa; sikap menghargai pendirian orang lain.[18] Sikap saling menghargai perbedaan merupakan sikap yang sudah melekat pada diri seorang santri. Nilai-nilai toleransi dan moderasi Islam telah diperlihatkan para santri dalam hidup berdampingan dengan orang lain dengan beragam perbedaan tanpa adanya kesenjangan.Tentunya penanaman dan pembiasaan sikap toleransi ini tidak dapat terlepas dari peran pesantren dalam mendidik santri.  Sikap toleran yang ditunjukkan oleh para santri secara nyata akan memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia sebagai sebuah negara yang plural (heterogen). Tidak hanya itu, sikap toleran yang lekat dengan pribadi santri, sejatinya telah mampu menghilangkan stigma tentang pendidikan Islam sebagai ajaran ekstremisme dan radikalisme.[19]  Sebagai generasi muda khususnya para santri seharusnyalah bersikap saling menghargai berbagai macam perbedaan. Dengan sikap toleran inilah akan membawa santri lebih mudah berinterkasi dengan siapapun secara damai tanpa sedikitpun timbul kecurigaan. Santri tidak lagi dipandang sebagai kaum bersarung yang tertutup. Namun sebaliknya, santri akan lebih dipandang sebagai sumber daya manusia yang moderat dan berkualitas sehingga santri lebih bebas untuk mengaktualisasikan dirinya dalam mewujudkan sebuah peradaban yang lebih maju di masa mendatang.  5)        R (Ridla)  Kata “Ridla” memiliki pengertian menerima segala yang terjadi dengan senang hati karena segala yang terjadi itu merupakan kehendak Allah swt. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: “Barang siapa yang tidak ridla dengan kada dan kadar-Ku hendaklah ia mencari Tuhan selain pada Aku” (H.R.at-Tabrani).[20]  Dengan berdasar pada hadits tersebut, wajib hukumnya bagi seorang muslim untuk ridla terhadap kodrat dan iradat Allah SWT. Dengan kata lain, ridla tidak menentang hukum dan ketentuan Allah SWT.  Ridla mencerminkan puncak ketenangan jiwa seseorang. Pendirian orang yang telah mencapai makam ridla tidak akan terguncang oleh apapun yang dihadapinya karena baginya segala yang terjadi di alam ini tidak lain adalah kekuasaan Allah swt, yang merupakan kodrat dan iradat-Nya yang mutlak.[21]  Penyeleggaraan pendidikan di pesantren, santri dibiasakan melatih diri untuk senantiasa bersikap sabar dan ridla terhadap segala yang terjadi. Karena semua yang terjadi atas kehendak Allah SWT. Dengan bekal pembiasaan inilah akan menjadikan santri sebagai pribadi kuat dan tidak mudah digoyahkan oleh pengaruh apapun. Karena sejatinya, mereka sudah mengimani bahwa segala yang telah dilakukan tidak selalu harus sesuai dengan ekpektasinya. Allah-lah yang memiliki kehendak atas hasilnya. Generasi muda yang kuat akan melahirkan sebuah negara yang kuat pula. Dengan begitu, semakin memudahkan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.  6)        I (Inovatif & Kreatif)  Selain beberapa hal yang telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya, dalam mewujudkan Indonesia gemilang juga sangat diperlukan sumber daya manusia yang inovatif dan kreatif. Karena dengan inovasi dan kreativitas inilah akan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih maju.  Kata inovatif memiliki arti bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru; bersifat pembaruan (kreasi baru). Sedangkan kata kreatif berarti memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; bersifat (mengandung) daya cipta.[22]  Dalam pendidikan pesantren, sebagai seorang pelajar, santri telah dibekali dengan keilmuan dan kecakapan. Pesantren juga menyediakan wadah bagi para santri untuk menyalurkan bakat dan minatnya, sehingga santri lebih bebas untuk mengekspresikan dirinya dengan berbagai inovasi dan kreativitas. Dengan bekal inilah dapat dijadikan sebagai modal dasar untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.  Santri yang hidup di zaman milineal berbasis digital ini, harus selalu berinovasi dan berkreasi dalam menciptakan karya-karya yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Sebagaimana karya-karya monumental yang dihasilkan oleh ulama terdahulu. Dengan karya-karya yang terlahir inilah yang mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikenal dunia.  Kesimpulan  Santri sebagai calon nahkoda kepemimpinan negeri di masa yang akan datang sepatutnya menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Santri haruslah mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara dengan memberikan kemanfaatan bagi kemaslahatan di sekitarnya. Seorang santri haruslah memiliki rasa optimis tanpa mengenal kata putus asa dan pantang menyerah dalam mewujudkan Indonesia emas 2045.  Indonesia Emas akan terwujud dengan lahirnya banyak generasi berkualitas khususnya generasi islami dari kalangan santri. Sebagaimana julukanya, seorang santri berkualitas haruslah memiliki spirit belajar yang tinggi dengan lebih terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berakhlak mulia dalam setiap tutur kata dan perilaku, berjiwa nasionalis dengan semangat juang yang tinggi terhadap negara Indonesia, bersikap toleran terhadap perbedaan yang beragam sehingga tidak muncul kesenjangan, ridlo atas segala ketentuan Allah SWT sehingga menjadi pribadi kuat yang tidak mudah goyah (terpengaruh), serta selalu inovatif dan kreatif dalam menciptakan sebuah karya atau produk yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Dengan demikian Indonesia Emas 2045 akan terwujud sebagai Indonesia gemilang dengan perkembangan dan kemajuan peradaban di berbagai sektor kehidupan.   [1] Muhammad Khalil, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta:Kementrian Agama, 2016), 116.  [2] Syaifullah, Diaspora Akan Mendamaikan Dunia dalam Majalah Nahdlatul Ulama Aula (Jawa Timur: PT.Aula Media NU, 2020), 7.  [3] Ilvi Nur Diana, Demokrasi dan Hak Publik Perempuan Dalam Perspektif Islam dalam al-‘Adalah (Jember:STAIN Jember Press, 2006), 4.  [4] Abd. Halim Soebahar, Kebijakan Pendidikan Islam (Jember: Buku Pena Salsabila, 2012), 45-46.  [5] Dewan Redaksi Ensikloped Islam, Ensikolpedi Islam (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 99.  [6] Tim Prisma Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Gita Media Press, 2000), 676  [7] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam (Semarang:PT Karya Toha Putra, 2014), 206-207.  [8][8][8] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensikolpedi Islam, 105.  [9] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta:Kencana, 2008), 288.  [10] Syaifullah, Diaspora Akan Mendamaikan Dunia dalam Majalah Nahdlatul Ulama Aula, 7.  [11] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, 228.  [12] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya (Bandung: Syamil Cipta Media, 2005), 543.  [13] Syaifullah, Diaspora Akan Mendamaikan Dunia dalam Majalah Nahdlatul Ulama Aula, 7.  [14] Muhammad Khalil, Sejarah Kebudayaan Islam, 74.  [15] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensikolpedi Islam, 103.  [16] https://kbbi.web.id/nasionalis.html, diunduh tanggal 7 Oktober 2021.  [17] Imam Subchi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT Lista fariska Putra, 2006), 134.  [18] Tim Prisma Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 765.  [19] Syaifullah, Diaspora Akan Mendamaikan Dunia dalam Majalah Nahdlatul Ulama Aula, 8.  [20] Dewan Redaksi Ensikloped Islam, Ensikolpedi Islam, 170.  [21] Dewan Redaksi Ensikloped Islam, Ensikolpedi Islam, 170.  [22] https://kbbi.web.id/nasionalis.html, diunduh tanggal 7 Oktober 2021.  DAFTAR PUSTAKA     Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: Syamil Cipta Media     Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 2002. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve     Halim Soebahar, Abd. 2012. Kebijakan Pendidikan Islam. Jember: Pena Salsabila     http://kbbi.web.id     Khalil, Muhammad. 2016. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia     Subchi, Imam. 2006. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: PT Listafariska Putra     Murodi. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang: PT Karya Toha Putra     Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta: Kencana     Nur, Diana Alvi dkk. 2006. Al-‘Adalah Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan Volume 9. Jember: STAIN Jember Pess     PWNU Jatim. 2020. Majalah Nahdlatul Ulama Aula. Jawa Timur: PT Antar Surya Jaya     Tim Prisma Pena. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gita Media Press
BAKTI SANTRI UNTUK NEGERI

Abstrak

Generasi muda terutama generasi Islam dari kalangan santri memiliki peran besar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Santri sebagai generasi muda Bangsa haruslah menjadi generasi berkualitas untuk mewujudkan Indoensia Emas. Santri berkualitas setidaknya selalu memiliki spirit tinggi dalam kegiatan keilmuan dengan terbuka dalam segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berakhlakul karimah, berjiwa nasionalis, toleran dalam segala bentuk perbedaan, ridla terhadap ketentuan Allah SWT dan selalu inovatif dan kreatif dalam menciptakan karya-karya yang bermanfaat bagi umat. Dengan generasi muda berkualitas, akan terwujud Indonesia Emas.

 

Kata Kunci: Pesantren, Santri, dan Indonesia Emas

 

Pendahuluan

Membincang soal peran santri untuk negeri tentu tidak dapat dilepaskan dari kajian historis sejak Indonesia belum merdeka. Berbagai fakta sejarah telah membuktikan bahwa kedudukan santri memiliki peran penting dalam kemerdekaan Indonesia. Satu diantaranya yang paling populer adalah “Resolusi Jihad” yang telah dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari, yang telah mampu dan berhasil mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia terutama di kalangan santri dalam melawan kolonialisme guna mencapai gerbang kemerdekaan. Atas jasa-jasanya, Presiden Soekarno melalui keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.[1]

Bermula dari fatwa Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari pada 22 oktober 1945 atas pertanyaan Bung Karno mengenai hukum mempertahankan kemerdekaan dengan melawan penjajah, akhirnya Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Kepres Nomor 22 Tahun 2015 sebagai bentuk apresiasi terhadap santri.[2]

Disamping KH. Hasyim Asy’ari, terdapat pula daftar nama perwira pembela Tanah Air yang berasal dari kalangan santri, diantaraya K.H Ahmad Dahlan, KH. Zainal Arifin, KH Wahid Hasyim, KH Zainal Mustofa, dan masih banyak lainnya.

Dengan mengkaji fakta sejarah tentang peran santri untuk kemerdekaan Indonesia, haruslah menjadi sebuah komitmen dan tanggung jawab bersama bagi warga Indonesia khususnya para santri untuk selalu menanamkan jiwa nasionalis dan cinta Tanah Air guna mempertahankan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para ulama terdahulu dengan mengisi kemerdekaan melalui berbagai aktivitas positif yang inovatif guna mencapai Indonesia Emas 2045.

Rasa nasionalis yang tinggi pada negeri wajib hukumnya sebagai bentuk pengabdian kita sebagai warga negara Indonesia. Dengan demikian, bhakti santri untuk negeri akan menjadi fondasi dasar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Semangat nasionalisme dan cinta Tanah Air pada zaman sekarang ini haruslah diwujudkan dalam berbagai tindakan yang memberikan kemanfaatan bagi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Kemanfaatan yang ditebarkan berdasar pada kemaslahatan seluruh umat tanpa memandang perbedaan sehingga tidak memunculkan kesenjangan. Ini mengingat, bahwa Indonesia sebagai negara plural terdiri dari berbagai macam perbedaan, baik agama, suku, ras, etnis, budaya dan adat istiadat. Keragaman inilah yang justru menjadi warna yang khas bagi Indonesia hingga dikenal di seluruh penjuru dunia.

Rasa nasionalisme dan cinta tanah air yang diwujudkan dalam berbagai tindakan bermanfaat bagi kemaslahatan tanpa adanya perbedaan, sesungguhnya telah diajarkan dalam nilai-nilai keislaman. Islam memang agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan, yang mengajarkan kedamaian, kasih sayang, persamaan, kesetaraan dan keadilan. Implikasinya, setiap umat Islam berkewajiban memberikan perlindungan terhadap kelima hak dasar tersebut tanpa membedakan golongan, ras, etnis, budaya, bahkan jenis kelamin.[3]

Tugas seorang santri sebagai wujud pengabdian pada negeri adalah senantiasa menanamkan nilai nasionalisme dan cinta Tanah Air sejak dini. Karena tidak dapat dipungkiri, Islam sebagai sebuah agama yang kaffah telah mengajarkan bahwa cinta tanah air sebagian dari iman. Dalam mewujudkannya, sebagai seorang santri haruslah memiliki sikap toleran yang tinggi terhadap sesama di tengah masyarakat yang plural. Oleh karenanya, sebagai pemuda terlebih seorang santri mari kobarkan dalam diri kita semangat memperjuangkan negara Indonesia, karena santri Indonesia mata air peradaban dunia.

Negara Indonesia pada saat ini, telah merdeka dari masa kolonial atau penjajahan. Tiada lagi kerja rodi, romusa, perbudakan, pengambilan hak secara paksa, penyiksaan bahkan pembantaian. Dalam hal ini, tidak sedikit yang bertanya bagaimana cara mengobarkan semangat juang di era milenial seperti sekarang ini.

Perkembangan arus globalisasi di era milenial seperti sekarang ini semakin kuat dan cepat, sehingga tidak mudah untuk hidup di tengah arus yang serba canggih dan modern seperti sekarang ini. Kecanggihan teknologi saat ini, dapat menjadi boomerang dan bom waktu tersendiri bagi penggunanya jika tidak dimanfaatkan secara positif.  Karena itu, sebagai generasi milenial di era digital seperti sekarang ini, haruslah terbuka terhadap berbagai perkembangan termasuk di dalamnya perkembangan dan kemajuan teknologi. Santri sebagai generasi milenial harus bijak dan selektif dalam memanfaatkannya.

Santri sangatlah berperan besar dalam mewujudkan Indonesia gemilang atau Golden Age, seperti halnya pada masa dahulu yang pernah ditorehkan oleh umat Islam pada masa klasik. Bagaimana para ilmuwan muslim kala itu, telah berhasil menjadikan dunia Islam sebagai peradaban dunia khususnya dalam bidang inteletualitas dan keilmuwan. Berdasar aspek historis inilah, seorang santri Indonesia haruslah mewarnai peradaban dunia dengan keilmuannya, sehingga terwujud Indonesia emas 2045. Di tahun 2045 Indonesia tidak hanya dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya saja, namun yang terpenting adalah kaya sumber daya manusia yang berkualitas.

 

Peran Pesantren

Berbicara soal santri tentu tidak dapat dipisahkan dari pesantren sebagai pengayomnya. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam, pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam pertama kali dirintis oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1399 Masehi untuk menyebarkan agama Islam di Jawa. Selanjutnya, tokoh yang berhasil mendirikan pesantren dan mengembangkannya adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel), yang kemudian melahirkan kemunculan pondok pesantren baru yang didirikan oleh para santrinya seperti pesantren Giri oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Patah dan pesantren Tuban oleh Sunan Bonang.[4]

Kata pesantren atau santri berasal dari Bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Sumber lain menyebutkan bahwa kata santri berasal dari Bahasa India Shastri dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci”, “buku-buku agama”, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan”. [5] Secara leksikal, kata santri diartikan sebagai siswa di pondok pesantren.[6]

Di luar Pulau Jawa lembaga pendidikan ini disebut dengan nama lain, seperti Surau di Sumatera Barat, Dayah di Aceh, Langgar di Kalimantan dan Pondok di beberapa daerah lain.[7]

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, pesantren telah memainkan peranannya yang besar dalam upaya memperkuat akidah, membina akhlak mulia dan mengembangkan swadaya masyarakat Indonesia serta turut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan informal, non formal dan pendidikan formal yang diselenggarakannya.

Secara informal, pesantren di Indonesia telah berfungsi sebagai keluarga yang membentuk watak dan kepribadian santri. Pesantren juga telah melaksanakan pendidikan keterampilan melalui kursus-kursus untuk membekali dan membantu kemandirian para santri dalam kehidupan masa depannya. Secara keseluruhan, pesantren selalu dijadikan contoh dan panutan oleh masyarakat dalam segala hal, sehingga eksistensi pesantren di Indonesia telah berperan menjadi potensi yang sangat besar dalam pengembangan masyarakat.[8]

Selain sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran keagamaan. Sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, menerima tamu yang datang dari masyarakat umum dengan motif yang berbeda-beda. Sebagai lembaga penyiaran agama Islam, masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yakni tempat belajar agama dan ibadah bagi para jamaah.[9]

Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan memiliki kekhasan tersendiri dengan lembaga pendidikan lainnya, yaitu para santri atau murid tinggal bersama kiai atau guru mereka dalam satu kompleks tertentu. Hal ini dapat memudahkan proses pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dalam upaya membentuk karakter santri melalui pembiasaan dalam kegiatan rutin di pesantren.

Secara lebih spesifik, pengaruh positif yang menjadi kontribusi pesantren dalam hal pembentukan kepribadian santri antara lain sebagai berikut:

1)   Santri taat dan patuh kepada kiai (gurunya).

2)   Santri dibiasakan untuk menjadi orang yang jujur baik dalam perkataan dan perbuatan.

3)   Para santri terbiasa hidup mandiri dan sederhana.

4)   Para santri terlatih hidup disiplin dalam segala hal.

5)   Adanya semangat gotong royong dalam suasana penuh persaudaraan sehingga memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama.

6)   Para santri terlatih untuk bersikap sabar, karena dalam pesantren para santri terdiri dari berbagai macam latar belakang dan karakter.

Keberhasilan pesantren memainkan perannya sebagai lembaga pendidikan yang mampu membentuk pribadi yang luhur (berakhlakul karimah) inilah yang membawa pesantren tetap diakui eksistensinya hingga sekarang. Sejak dulu hingga sekarang, eksistensi pesantren tidak pernah surut terbawa gelombang arus pergeseran zaman yang semakin terpupuskan oleh kebiasaan-kebiasan yang serba memanjakan bagi penikmatnya. Sudah menjadi keharusan bagi generasi muda khususnya para santri untuk menghindari kebiasan-kebiasaan yang dapat mengarah pada pembentukan generasi instan di era milenial seperti sekarang ini, terlebih pada hal yang mengarah pada gaya hidup kebarat-baratan yang jauh dari nilai keislaman dan budaya ketimuran.

Bhakti Santri Menuju Indonesia Emas 2045

Santri yang beriringan dengan pesantren sebagai pengayomnya dalam membantu dakwah moderasi Islam membentengi akidah umat dan mewariskan karakter luhur di Indonesia sudah cukup menjadi modal dalam memainkan peranannya untuk mengabdi pada negeri dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Sejatinya gaya hidup santri yang humanis, mandiri, sederhana, inklusif dan toleran yang telah dibiasakan saat belajar di pesantren rasanya dapat diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa.[10] Di samping itu, rutinitas pembelajaran yang dilakukan di pesantren baik yang bersifat informal, non-formal dan formal telah membekali para santri untuk menjadi generasi islami yang intelektual, cakap dan bermoral khususnya di era milineal seperti saat ini. Dan para santri akan berkolaborasi dengan mereka yang menempuh studi di belahan dunia untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia Emas 2045. Sebuah pemandangan indah yang akan mengisi perjalanan bangsa ini di masa mendatang.

Dalam muwjudkan Indonesia Emas 2045, peran santri sangatlah penting. Dengan berdasar pada hasil pembelajaran di pesantren diakui atau tidak, pesantren telah berhasil mencetak generasi bangsa yang unggul dalam ilmu dan amal dengan penuh kemandirian, inovasi dan kreatifitas. Pengabdian santri untuk negeri dalam mewujudkan Indonesia emas 2045, dapat diwujudkan melalui aktualisasi santri dengan mendasar pada kata “santri” itu sendiri.

Kata santri bukan hanya sekedar kata yang telah ditejermahkan secara sederhana baik secara hafiah maupun leksikal. Lebih jauh dari itu, kata santri sejatinya memiliki makna yang luar biasa untuk kemajuan bangsa dan negara.

Pada bagian ini, penulis akan mencoba mengkaji dan menganalisa makna kata “santri” ditinjau dari segi akronimnya. Setiap huruf yang terangkai dalam kata “santri” akan memberikan makna mendalam dalam menggambarkan karakter santri untuk mengabdi pada negeri dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kata “santri” terdiri dari lima huruf yaitu: S-A-N-T-R-I dan kelima huruf tersebut memiliki makna tresendiri sebagai perwujudan kekhasan seorang santri.

1)        S (Spirit belajar tinggi)

Spirit belajar yang tinggi merupakan implementasi dari perintah Allah SWT melalui firman-Nya, dan juga Rasulullah SAW melalui hadistnya. Karena itu, mencari ilmu ini sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap umat Islam tanpa mengenal batas usia.

Al-Qur’an menekankan agar umat Islam mencari ilmu pengetahuan dengan meneliti alam semesta ini, dan bagi orang yang menuntut ilmu ditinggikan derajatnya di sisi Allah SWT. [11] Sebagaimana firman Allah SWT dalam al Qur’an Surat Al Mujadalah ayat 11 yang artinya:

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.[12]

Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya agar ada pula menyempatkan diri menuntut ilmu ke negeri Cina. Hadist tersebut setidaknya merekomendasikan kepada umat Islam untuk lebih memiliki keterbukaan diri dengan membuka pola pandang dan wacana dalam menimba ilmu pengetahuan di belahan dunia manapun.

Dalam kesempatan berbeda, almarhum Nurcholis Madjid telah mengingatkan bahwa dalam waktu yang tidak lama, akan terjadi ledakan yang luar biasa dari kalangan Nahdlatul Ulama. Hal tersebut terjadi karena dalam pandangan beliau banyak santri yang belajar di luar negeri. Mereka dari sejumlah pesantren dengan kemampuan Bahasa Arab mumpuni, kemudian berbaur dengan suasana keilmuan di berbagai belahan dunia.[13]

Secara historis tercatat beberapa ulama Indonesia pada masa lalu pernah berkiprah hingga namanya dikenal dunia. Pada umumnya mereka menimba ilmu di Mekkah dan Madinah. Diantaranya adalah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani, Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani dan lainnya. Santri yang juga menjadi barometer kesuksesannya, antara lain KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, KH Ahmad Dahlan, KH Abdurrahman Wahid dan masih banyak lagi lainya.[14] Dengan mencermati fakta sejarah inilah, seyogyanya dapat menjadi spirit tersendiri untuk selalu menimba ilmu sepanjang hayat tanpa terbatas oleh ruang dan waktu, terutama di kalangan generasi muda khususnya para santri Indonesia.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara kontinu telah memberikan ruang yang total bagi para santrinya untuk selalu istiqomah dalam belajar. Sebagai generasi muda Islam yang hidup di era milineal yang serba digital inilah, kesempatan terbuka bagi para santri pada khususnya untuk berkiprah dalam kegiatan keilmuan.

Sebagai seorang santri yang terbiasa terlatih untuk melakukan kegiatan keilmuan secara kontinu dalam bentuk rutinitas di pesantren, harus memiliki nilai yang lebih dalam mengembangkan kegiatan keilmuan.

Santri harus menjadi pribadi yang lebih terbuka dalam segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin terus berkembang pesat. Oleh karenanya, spirit untuk selalu belajar atau menimbah ilmu haruslah menjadi sebuah kebutuhan bagi para santri. Santri dengan spirit belajar yang tinggi inilah yang akan berhasil membawa Indonesia menjadi sebuah negara yang memiliki peradaban tinggi di kancah internasional. Santri Indonesia haruslah menjadi mata air peradaban dunia.

2)        A (Akhlakul Karimah)

Peran pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang sukses, tidak hanya mendidik santri dalam bidang keilmuan saja, namun yang paling penting adalah pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak yang diselenggarakan di pesantren merupakan pendidikan yang nyata bagi para santri melalui penanaman nilai-nilai islami yang diaplikasikan dalam tindakan sehari-hari, atau yang lebih dikenal dengan istilah akhlakul karimah. Dan inilah yang menjadi kekhasan tersendiri bagi dunia pesantren dalam mencetak generasi Islam yang unggul dalam bidang ilmu, amal dan akhlak.

Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantern didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapat ridla Allah SWT. Para santri di didik untuk menjadi mukmin sejati, yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, mempunyai intgritas pribadi yang kukuh, mandiri dan mempunya kualitas intelektual.[15]

Pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren inilah berhasil menjadikan pola pikir dan perilaku santri kerap menjadi teladan di masyarakat, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia internasional. Dengan berbekal ilmu dan akhlak, seorang santri akan menjadi pribadi yang berkualitas untuk menuju Indonesia Emas.

3)        N (Nasionalis)

Kata “Nasionalis” secara leksikal memiliki arti pecinta nusa dan bangsa sendiri;orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya.[16]

Sikap nasionalis ini telah dicontohkan oleh para ulama terdahulu seperti halnya KH. Hasyim Asy’ari dengan semangat jihadnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sampai akhirnya memunculkan fatwa tentang resolusi jihad. Fatwa beliau ini sangat efektif dalam menghimpun massa. Fatwa tersebut berisi bahwa “perang kemerdekaan adalah perang suci di jalan Allah (jihad fi sabilillah) dan barang siapa mati dalam perang ini dijamin masuk syurga”.[17]

Sebagaimana sikap nasionalis yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu inilah, yang kemudian menjadi keteladanan bagi para generasi muda khususnya para santri untuk menanamkan jiwa nasionalis dalam berbagai bentuk tindakan positif yang bermanfaat bagi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Generasi muda Islam terlebih seorang santri haruslah dapat mengisi kemerdekaan yang telah di raih dengan melakukan berbagai perubahan menuju kemajuan peradaban dalam berbagai aspek baik bidang keilmuan, ekonomi, sosial, politik dan budaya. Sang generasi muda inilah yang menjadi tumpuan bangsa Indonesia di masa mendatang terutama untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Jika generasi muda memiliki jiwa nasionalis yang kuat, maka tidak akan mudah tergoyahkan dengan berbagai macam bentuk serangan yang dapat menjatuhkan keutuhan dan persatuan Bumi pertiwi Indonesia.

4)        T (Toleran)

Toleran berarti bersikap tenggang rasa; sikap menghargai pendirian orang lain.[18] Sikap saling menghargai perbedaan merupakan sikap yang sudah melekat pada diri seorang santri. Nilai-nilai toleransi dan moderasi Islam telah diperlihatkan para santri dalam hidup berdampingan dengan orang lain dengan beragam perbedaan tanpa adanya kesenjangan.Tentunya penanaman dan pembiasaan sikap toleransi ini tidak dapat terlepas dari peran pesantren dalam mendidik santri.

Sikap toleran yang ditunjukkan oleh para santri secara nyata akan memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia sebagai sebuah negara yang plural (heterogen). Tidak hanya itu, sikap toleran yang lekat dengan pribadi santri, sejatinya telah mampu menghilangkan stigma tentang pendidikan Islam sebagai ajaran ekstremisme dan radikalisme.[19]

Sebagai generasi muda khususnya para santri seharusnyalah bersikap saling menghargai berbagai macam perbedaan. Dengan sikap toleran inilah akan membawa santri lebih mudah berinterkasi dengan siapapun secara damai tanpa sedikitpun timbul kecurigaan. Santri tidak lagi dipandang sebagai kaum bersarung yang tertutup. Namun sebaliknya, santri akan lebih dipandang sebagai sumber daya manusia yang moderat dan berkualitas sehingga santri lebih bebas untuk mengaktualisasikan dirinya dalam mewujudkan sebuah peradaban yang lebih maju di masa mendatang.

5)        R (Ridla)

Kata “Ridla” memiliki pengertian menerima segala yang terjadi dengan senang hati karena segala yang terjadi itu merupakan kehendak Allah swt. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: “Barang siapa yang tidak ridla dengan kada dan kadar-Ku hendaklah ia mencari Tuhan selain pada Aku” (H.R.at-Tabrani).[20]

Dengan berdasar pada hadits tersebut, wajib hukumnya bagi seorang muslim untuk ridla terhadap kodrat dan iradat Allah SWT. Dengan kata lain, ridla tidak menentang hukum dan ketentuan Allah SWT.

Ridla mencerminkan puncak ketenangan jiwa seseorang. Pendirian orang yang telah mencapai makam ridla tidak akan terguncang oleh apapun yang dihadapinya karena baginya segala yang terjadi di alam ini tidak lain adalah kekuasaan Allah swt, yang merupakan kodrat dan iradat-Nya yang mutlak.[21]

Penyeleggaraan pendidikan di pesantren, santri dibiasakan melatih diri untuk senantiasa bersikap sabar dan ridla terhadap segala yang terjadi. Karena semua yang terjadi atas kehendak Allah SWT. Dengan bekal pembiasaan inilah akan menjadikan santri sebagai pribadi kuat dan tidak mudah digoyahkan oleh pengaruh apapun. Karena sejatinya, mereka sudah mengimani bahwa segala yang telah dilakukan tidak selalu harus sesuai dengan ekpektasinya. Allah-lah yang memiliki kehendak atas hasilnya. Generasi muda yang kuat akan melahirkan sebuah negara yang kuat pula. Dengan begitu, semakin memudahkan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

6)        I (Inovatif & Kreatif)

Selain beberapa hal yang telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya, dalam mewujudkan Indonesia gemilang juga sangat diperlukan sumber daya manusia yang inovatif dan kreatif. Karena dengan inovasi dan kreativitas inilah akan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih maju.

Kata inovatif memiliki arti bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru; bersifat pembaruan (kreasi baru). Sedangkan kata kreatif berarti memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; bersifat (mengandung) daya cipta.[22]

Dalam pendidikan pesantren, sebagai seorang pelajar, santri telah dibekali dengan keilmuan dan kecakapan. Pesantren juga menyediakan wadah bagi para santri untuk menyalurkan bakat dan minatnya, sehingga santri lebih bebas untuk mengekspresikan dirinya dengan berbagai inovasi dan kreativitas. Dengan bekal inilah dapat dijadikan sebagai modal dasar untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Santri yang hidup di zaman milineal berbasis digital ini, harus selalu berinovasi dan berkreasi dalam menciptakan karya-karya yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Sebagaimana karya-karya monumental yang dihasilkan oleh ulama terdahulu. Dengan karya-karya yang terlahir inilah yang mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikenal dunia.

Kesimpulan

Santri sebagai calon nahkoda kepemimpinan negeri di masa yang akan datang sepatutnya menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Santri haruslah mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara dengan memberikan kemanfaatan bagi kemaslahatan di sekitarnya. Seorang santri haruslah memiliki rasa optimis tanpa mengenal kata putus asa dan pantang menyerah dalam mewujudkan Indonesia emas 2045.

Indonesia Emas akan terwujud dengan lahirnya banyak generasi berkualitas khususnya generasi islami dari kalangan santri. Sebagaimana julukanya, seorang santri berkualitas haruslah memiliki spirit belajar yang tinggi dengan lebih terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berakhlak mulia dalam setiap tutur kata dan perilaku, berjiwa nasionalis dengan semangat juang yang tinggi terhadap negara Indonesia, bersikap toleran terhadap perbedaan yang beragam sehingga tidak muncul kesenjangan, ridlo atas segala ketentuan Allah SWT sehingga menjadi pribadi kuat yang tidak mudah goyah (terpengaruh), serta selalu inovatif dan kreatif dalam menciptakan sebuah karya atau produk yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Dengan demikian Indonesia Emas 2045 akan terwujud sebagai Indonesia gemilang dengan perkembangan dan kemajuan peradaban di berbagai sektor kehidupan.



[1] Muhammad Khalil, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta:Kementrian Agama, 2016), 116.

[2] Syaifullah, Diaspora Akan Mendamaikan Dunia dalam Majalah Nahdlatul Ulama Aula (Jawa Timur: PT.Aula Media NU, 2020), 7.

[3] Ilvi Nur Diana, Demokrasi dan Hak Publik Perempuan Dalam Perspektif Islam dalam al-‘Adalah (Jember:STAIN Jember Press, 2006), 4.

[4] Abd. Halim Soebahar, Kebijakan Pendidikan Islam (Jember: Buku Pena Salsabila, 2012), 45-46.

[5] Dewan Redaksi Ensikloped Islam, Ensikolpedi Islam (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 99.

[6] Tim Prisma Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Gita Media Press, 2000), 676

[7] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam (Semarang:PT Karya Toha Putra, 2014), 206-207.

[8][8][8] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensikolpedi Islam, 105.

[9] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta:Kencana, 2008), 288.

[10] Syaifullah, Diaspora Akan Mendamaikan Dunia dalam Majalah Nahdlatul Ulama Aula, 7.

[11] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, 228.

[12] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya (Bandung: Syamil Cipta Media, 2005), 543.

[13] Syaifullah, Diaspora Akan Mendamaikan Dunia dalam Majalah Nahdlatul Ulama Aula, 7.

[14] Muhammad Khalil, Sejarah Kebudayaan Islam, 74.

[15] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensikolpedi Islam, 103.

[16] https://kbbi.web.id/nasionalis.html, diunduh tanggal 7 Oktober 2021.

[17] Imam Subchi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT Lista fariska Putra, 2006), 134.

[18] Tim Prisma Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 765.

[19] Syaifullah, Diaspora Akan Mendamaikan Dunia dalam Majalah Nahdlatul Ulama Aula, 8.

[20] Dewan Redaksi Ensikloped Islam, Ensikolpedi Islam, 170.

[21] Dewan Redaksi Ensikloped Islam, Ensikolpedi Islam, 170.

[22] https://kbbi.web.id/nasionalis.html, diunduh tanggal 7 Oktober 2021.

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: Syamil Cipta Media

 

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 2002. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve

 

Halim Soebahar, Abd. 2012. Kebijakan Pendidikan Islam. Jember: Pena Salsabila

 

http://kbbi.web.id

 

Khalil, Muhammad. 2016. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia

 

Subchi, Imam. 2006. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: PT Listafariska Putra

 

Murodi. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang: PT Karya Toha Putra

 

Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta: Kencana

 

Nur, Diana Alvi dkk. 2006. Al-‘Adalah Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan Volume 9. Jember: STAIN Jember Pess

 

PWNU Jatim. 2020. Majalah Nahdlatul Ulama Aula. Jawa Timur: PT Antar Surya Jaya

 

Tim Prisma Pena. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gita Media Press

 

 DOWNLOAD JUGA:

Kumpulan Karya dan Perangkat Pembelajaran (Bahan Ajar, LKPD, dll)

 

Post a Comment for "ARTIKEL HARI SANTRI:PERAN SANTRI DALAM MEWUJUDKAN INDONESIA EMAS 2045"